Ada orang yang menyiapkan perjalanan umrah berbulan-bulan. Paspor diperiksa, koper dibeli, pakaian ihram disiapkan, obat-obatan ditata, bahkan daftar tempat yang ingin dikunjungi sudah tersimpan rapi di ponsel.
Namun ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting:

Sudahkah hati kita dipersiapkan untuk menghadap Allah?

Sebab haji dan umrah bukan perjalanan wisata biasa. Kita tidak sedang sekadar berpindah dari Indonesia menuju Makkah dan Madinah. Kita sedang melakukan perjalanan ibadah menuju tempat-tempat yang Allah muliakan.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196)

Perhatikan kalimatnya: karena Allah.

Bukan karena ingin dipanggil “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”. Bukan agar foto di depan Ka’bah mendapat banyak pujian. Bukan pula sekadar karena teman-teman sudah berangkat terlebih dahulu.

Karena itu, sebelum memikirkan hotel, pesawat dan itinerary, seorang muslim perlu menyiapkan bekal yang jauh lebih berharga.

1. Luruskan Niat: Kita Berangkat untuk Siapa?

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 1) (Sunnah⁠)

Hadits ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:

Untuk siapa sebenarnya perjalanan ini?

Tidak salah mengabadikan kenangan. Tidak salah membeli oleh-oleh. Tidak salah menikmati kenyamanan perjalanan.

Namun jangan sampai perkara-perkara tersebut menjadi tujuan utama sehingga hati justru kehilangan sesuatu yang paling penting: keikhlasan kepada Allah.

Boleh jadi manusia melihat perjalanan kita begitu indah, tetapi yang kita harapkan bukan sekadar kekaguman manusia. Yang lebih penting adalah apakah perjalanan tersebut diterima di sisi Allah.

Haji dan umrah adalah kesempatan untuk kembali. Kembali memperbaiki tauhid, memperbanyak istighfar, meninggalkan dosa dan merendahkan hati di hadapan Rabb semesta alam.

2. Pelajari Manasik Sebelum Berangkat

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah seseorang sangat serius mencari informasi tentang hotel, koper, makanan atau tempat belanja, tetapi hanya sedikit waktu yang digunakan untuk mempelajari tata cara ibadahnya.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda ketika melaksanakan haji: “Ambillah dariku tata cara manasik kalian.” (HR. Muslim no. 1297) (Sunnah⁠)

Inilah prinsip penting dalam manhaj Ahlus Sunnah: ibadah dibangun di atas dalil dan tuntunan Rasulullah ﷺ.

Jangan beribadah hanya karena “rombongan biasanya melakukan ini”, “katanya doa ini harus dibaca di tempat tertentu”, atau “orang-orang banyak mengerjakannya”.

Belajarlah sebelum berangkat.

Ketahui kapan mulai ihram, larangan ihram, tata cara thawaf, sa’i, tahallul, miqat, serta rangkaian haji sesuai jenis haji yang dilakukan.

Dalam perkara ibadah, semangat saja tidak cukup. Kita membutuhkan ilmu.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa amalan yang diada-adakan dalam agama dan tidak memiliki tuntunannya akan tertolak. (HR. Al-Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718) (Sunnah⁠)

Maka semakin besar kerinduan kita kepada Baitullah, semakin besar pula seharusnya keinginan kita untuk mengikuti Sunnah Nabi ﷺ.

3. Pastikan Kemampuan, Jangan Memaksakan Diri

Allah Ta’ala berfirman: “…Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali ‘Imran: 97) (corpus.quran.com⁠)

Kata pentingnya adalah mampu.

Keinginan berangkat ke Tanah Suci adalah keinginan yang sangat mulia. Tetapi jangan sampai keinginan tersebut justru menyeret seseorang kepada perkara yang Allah haramkan.

Jangan mengejar keberangkatan dengan transaksi ribawi. Jangan mengorbankan kebutuhan pokok keluarga. Jangan sampai terlihat mampu pergi ke Makkah tetapi meninggalkan kewajiban yang harus diselesaikan di rumah.

Ibadah kepada Allah tidak membutuhkan kita menerobos batas-batas syariat.

Bila hari ini belum mampu, jangan berputus asa.

Teruslah berdoa. Menabunglah sedikit demi sedikit. Perbaiki ikhtiar. Bisa jadi Allah belum memanggil kita tahun ini karena Dia sedang mempersiapkan waktu yang jauh lebih baik.

4. Jaga Sumber Biaya dari Harta yang Halal

Kita tentu ingin membawa pakaian terbaik ketika memasuki Masjidil Haram.

Namun ada sesuatu yang lebih layak diperhatikan daripada pakaian yang kita kenakan: dari mana uang perjalanan kita berasal?

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim no. 1015) (Sunnah⁠)

Dalam hadits yang sama Rasulullah ﷺ menceritakan seseorang yang melakukan perjalanan jauh, mengangkat tangannya memohon kepada Allah, tetapi makanan, minuman dan pakaiannya berasal dari yang haram. Nabi ﷺ kemudian mempertanyakan bagaimana doanya akan dikabulkan.

Ini menjadi peringatan besar bagi kita.

Sebelum berangkat, periksa kembali sumber penghasilan. Jauhi riba, penipuan, kezhaliman dan transaksi yang haram.

Kita ingin berdiri di hadapan Ka’bah dengan hati yang tenang sambil berkata: “Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu.”

5. Bawa Bekal Terbaik Bernama Takwa

Allah Ta’ala memberikan sebuah nasihat yang sangat indah ketika membicarakan perjalanan haji: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197) (Quran.com⁠)

Koper boleh penuh, tetapi jangan sampai hati kosong.

Bawalah sabar. Bawalah kemampuan menahan lisan. Bawalah kebiasaan memaafkan. Bawalah kesiapan untuk antre. Bawalah kerendahan hati.

Karena justru ketika jutaan manusia berkumpul, karakter kita akan diuji.

Ada orang yang menyenggol. Ada antrean panjang. Ada jadwal berubah. Ada tubuh yang kelelahan. Ada teman sekamar yang kebiasaannya berbeda dengan kita.

Di situlah ibadah tidak lagi hanya berbicara tentang berapa putaran kita melakukan thawaf.

Akhlak kita juga sedang diuji.

Allah berfirman agar orang yang melaksanakan haji tidak melakukan rafats, kefasikan dan perdebatan selama haji. (QS. Al-Baqarah: 197) (Quran.com⁠)

Mungkin kita bisa menahan lapar beberapa jam. Tetapi mampukah kita menahan amarah ketika kelelahan? Itulah salah satu latihan terbesar selama perjalanan menuju Baitullah.

6. Jangan Sibuk Merekam Sampai Lupa Menghayati

Ada saatnya kamera perlu disimpan. Ada saatnya ponsel tidak perlu diangkat. Ada saatnya kita hanya perlu memandang Ka’bah, berdzikir, berdoa dan menyadari betapa kecilnya diri kita di hadapan Allah.

Dokumentasi adalah perkara yang pada asalnya mubah. Tetapi jangan sampai setiap ibadah berubah menjadi konten. Jangan sampai kita lebih sibuk mencari sudut foto terbaik daripada menghadirkan hati ketika berdoa.

Tanah Suci adalah tempat untuk memperbanyak ketundukan kepada Allah, bukan panggung untuk mencari pengakuan manusia. Ada kenangan yang cukup disimpan di galeri.

Namun ada pengalaman iman yang seharusnya disimpan jauh lebih dalam: di dalam hati.

    7. Ukuran Perjalanan Bukan Hanya Saat di Makkah, tetapi Setelah Pulang

    Rasulullah ﷺ bersabda: “Umrah yang satu ke umrah berikutnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” (HR. Al-Bukhari no. 1773) (Sunnah⁠)

    Dalam hadits lain Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang berhaji karena Allah, menjaga dirinya dari rafats dan kefasikan, dapat kembali seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya. (HR. Al-Bukhari no. 1521) (Sunnah⁠)

    Betapa besar keutamaannya.

    Namun setelah koper dibongkar dan oleh-oleh dibagikan, ada pertanyaan penting yang perlu kita tanyakan:

    Apa yang berubah dalam diri kita?

    Apakah shalat menjadi lebih terjaga?

    Apakah lisan menjadi lebih lembut?

    Apakah dosa yang dahulu dilakukan mulai ditinggalkan?

    Apakah hati semakin takut kepada Allah?

    Apakah kita semakin berhati-hati dalam mencari rezeki?

    Apakah hubungan dengan keluarga menjadi lebih baik?

    Jangan sampai tubuh pernah berada sangat dekat dengan Ka’bah, tetapi setelah pulang hati kembali jauh dari Allah.

    Haji dan umrah yang kita rindukan seharusnya bukan sekadar perjalanan beberapa hari. Kita berharap ia menjadi titik balik kehidupan.

    Jika Belum Mendapat Kesempatan Berangkat Tahun Ini

    Jika hari ini kita melihat orang lain mendapatkan kesempatan berangkat menuju Tanah Suci sementara kita masih menunggu, jangan berputus asa.

    Boleh jadi namamu belum tercatat dalam daftar keberangkatan manusia.

    Tetapi jangan pernah berhenti mengetuk pintu Allah.

    Perbaiki niat. Pelajari manasik. Lunasi kewajiban. Carilah rezeki yang halal. Mulailah menabung. Dan teruslah berdoa.

    Sebab perjalanan ke Baitullah bukan sekadar tentang siapa yang memiliki uang paling banyak, tetapi siapa yang Allah mudahkan jalannya.

    Dan ketika hari itu benar-benar tiba, semoga kita tidak hanya datang membawa koper dan paspor.

    Semoga kita datang membawa tauhid, keikhlasan, ilmu, Sunnah, taubat dan hati yang benar-benar rindu kepada Allah.

    Semoga Allah memberikan kita kesempatan mengunjungi Baitullah, memudahkan perjalanan kita, memberikan umrah yang diterima dan menganugerahkan haji yang mabrur. Aamiin.

      Leave a Reply

      Your email address will not be published. Required fields are marked *