Ada jamaah yang menabung bertahun-tahun agar bisa sampai ke Tanah Suci. Ada yang menahan banyak keinginan, mengatur keuangan, mempersiapkan paspor, koper, obat-obatan, hingga memilih perlengkapan terbaik.

Ketika akhirnya Ka’bah berada di depan mata, air mata pun jatuh. Namun ada satu hal yang tidak kalah penting untuk dipersiapkan:

Apakah cara kita beribadah sudah sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ?

Umrah bukan sekadar perjalanan menuju Makkah. Umrah adalah ibadah. Dan setiap ibadah memiliki aturan, tata cara, batasan, serta tuntunan yang tidak boleh dibuat berdasarkan perasaan, kebiasaan rombongan, atau sesuatu yang sekadar “katanya bagus dilakukan di Tanah Suci”.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah.” (QS. Al-Baqarah: 196)

Karena itu, kecintaan kepada Baitullah seharusnya membuat kita semakin ingin mengikuti Sunnah, bukan justru menambah-nambahkan ritual yang tidak dicontohkan.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Ambillah dariku tata cara manasik kalian.” (HR. Muslim no. 1297)

Berikut tujuh kesalahan yang cukup sering dianggap sepele. Tidak semuanya otomatis membatalkan umrah, tetapi sebagian dapat mengurangi kesempurnaan ibadah, menjerumuskan kepada larangan, bahkan masuk ke dalam amalan yang tidak memiliki tuntunan apabila dilakukan sebagai ritual agama.

1. Berangkat dengan Semangat Besar, tetapi Minim Ilmu

Mungkin kita sudah tahu maskapai yang digunakan.

Kita tahu hotelnya. Kita tahu berapa kilogram bagasi yang diperbolehkan. Kita tahu toko oleh-oleh yang ingin dikunjungi.

Tetapi ketika ditanya: Di mana miqat kita? Apa saja larangan ihram? Bagaimana thawaf yang benar? Kapan tahallul dilakukan? Kita justru menjawab, “Nanti ikut pembimbing saja.”

Mengikuti pembimbing yang berilmu tentu baik. Tetapi seorang muslim tetap seharusnya mempelajari ibadah yang akan ia lakukan.

Allah Ta’ala berfirman: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Umrah membutuhkan biaya. Tetapi ia juga membutuhkan ilmu. Karena semangat tanpa ilmu dapat membuat seseorang sangat bersungguh-sungguh melakukan sesuatu yang ternyata tidak pernah diajarkan Rasulullah ﷺ.

Bekal pertama sebelum ihram bukan koper. Bekal pertama adalah ilmu.

2. Terlalu Sibuk dengan Dokumentasi hingga Kehilangan Kekhusyukan

Merekam perjalanan atau mengambil foto pada asalnya bukanlah inti persoalannya. Masalahnya muncul ketika kamera mulai mengambil tempat yang seharusnya dimiliki oleh hati.

Ka’bah terlihat, yang pertama dicari kamera. Selesai thawaf, sibuk membuat dokumentasi. Di Masjidil Haram, pikiran justru memikirkan unggahan berikutnya. Lebih mengkhawatirkan apabila tanpa disadari hati mulai menikmati pujian manusia:

“MasyaAllah, sudah umrah.”

“Enak sekali bisa ke Makkah.”

“Semoga kami segera menyusul.”

Di sinilah kita perlu kembali memeriksa niat.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Tidak semua perjalanan harus dipertontonkan. Ada saat ketika ponsel sebaiknya disimpan. Ada doa yang cukup Allah saja yang mendengarnya. Ada tangisan di hadapan Ka’bah yang tidak membutuhkan penonton.

Jangan sampai kita pulang membawa ribuan foto, tetapi hanya sedikit kenangan ketika hati benar-benar hadir bersama Allah.

3. Menganggap Setiap Putaran Thawaf Memiliki Doa Khusus

Sebagian jamaah membawa buku yang membagi doa: putaran pertama membaca ini, putaran kedua membaca itu, putaran ketiga membaca doa tertentu, dan seterusnya sampai putaran ketujuh.

Kemudian seolah-olah doa tersebut merupakan bagian khusus yang harus dibaca pada masing-masing putaran.

Padahal tidak terdapat tuntunan shahih yang menetapkan satu doa tertentu untuk setiap putaran thawaf.

Seorang muslim boleh berdoa, berdzikir, membaca Al-Qur’an, memohon ampun dan meminta kebutuhan dunia maupun akhirat ketika thawaf dengan doa-doa yang baik.

Di antara doa yang memang diriwayatkan dibaca Nabi ﷺ antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad adalah: “Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban-naar.”

Artinya:

“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.”

Doa tersebut berasal dari QS. Al-Baqarah: 201 dan terdapat riwayat mengenai membacanya dalam thawaf.

Prinsip yang harus dijaga adalah: jangan menjadikan sesuatu sebagai ritual khusus dalam ibadah tanpa dalil.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

4. Memaksakan Diri Mencium Hajar Aswad sampai Menyakiti Jamaah Lain

Mencium Hajar Aswad adalah Sunnah apabila memungkinkan. Namun Sunnah tidak dijalankan dengan melakukan kezhaliman terhadap orang lain.

Dalam keadaan sangat padat, seseorang tidak harus memaksa masuk, mendorong orang, menyikut jamaah, mengganggu perempuan, atau menciptakan kegaduhan hanya supaya dapat mencium Hajar Aswad.

Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata ketika mencium Hajar Aswad:

“Sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau hanyalah batu, tidak dapat memberi mudarat dan tidak dapat memberi manfaat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah ﷺ menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ucapan Umar radhiyallahu ‘anhu mengandung pelajaran besar. Kita menghormati Hajar Aswad karena mengikuti Rasulullah ﷺ, bukan karena meyakini batu tersebut memiliki kekuatan tersendiri.

Jika dapat menciumnya tanpa menimbulkan mudarat, lakukanlah. Jika tidak memungkinkan, jangan mengubah Sunnah menjadi sebab menyakiti sesama muslim.

Tidak perlu mengejar satu Sunnah dengan melakukan pelanggaran yang lebih besar.

5. Mengusap Apa Saja demi “Mengambil Berkah”

Inilah perkara yang perlu diperhatikan dengan serius. Ada orang yang ingin menyentuh dinding Ka’bah, mengusap berbagai bagian bangunan, menyentuh Maqam Ibrahim, kemudian mengusapkannya ke tubuh dengan keyakinan memperoleh keberkahan tertentu.

Padahal ibadah dan tabarruk harus berdasarkan dalil. Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu memberikan prinsip yang sangat tegas melalui perkataannya tentang Hajar Aswad tadi.

Bahkan terhadap Hajar Aswad, beliau menegaskan: ia tidak memberikan manfaat atau mudarat dengan sendirinya. Beliau menciumnya karena Rasulullah ﷺ melakukannya.

Itulah ittiba’.

Bukan karena perasaan.

Bukan karena “orang-orang juga melakukan”.

Bukan karena sebuah benda berada dekat Ka’bah lalu otomatis semua bagiannya disyariatkan untuk diusap. Cinta kepada Tanah Suci harus berjalan bersama ilmu.

Semakin kita mencintai Sunnah, semakin berhati-hati kita menisbatkan suatu ritual kepada agama.

6. Mudah Marah ketika Lelah, Padahal Akhlak Sedang Diuji

Tanah Suci tidak selalu menghadirkan kondisi ideal. Cuaca bisa panas. Tubuh bisa lelah. Lift hotel bisa penuh.
Bus bisa terlambat. Antrean panjang. Orang lain mungkin tidak sengaja menyenggol. Teman sekamar memiliki kebiasaan yang berbeda.

Di sinilah salah satu ujian besar perjalanan ibadah dimulai. Allah Ta’ala berfirman mengenai haji: “…Maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji…” (QS. Al-Baqarah: 197)

Walaupun ayat tersebut berbicara tentang haji, pelajaran adabnya sangat besar bagi perjalanan menuju Tanah Suci. Jangan sampai di depan Ka’bah kita menangis, tetapi ketika kembali ke hotel kita mudah membentak.

Jangan sampai lisan sibuk berdzikir, tetapi beberapa menit kemudian sibuk mencela jamaah lain. Kesabaran ketika berdesakan bisa jadi jauh lebih berat daripada kesabaran ketika semuanya nyaman. Dan justru di situlah kualitas akhlak terlihat.

Umrah bukan hanya menguji kaki yang kuat berjalan. Umrah juga menguji hati yang mampu menahan amarah.

7. Mengira Umrah Selesai ketika Pesawat Mendarat di Indonesia

Ini salah satu kesalahan yang paling tidak terlihat. Sebelum umrah seseorang rajin berdoa. Di Makkah ia menjaga shalat. Al-Qur’an hampir selalu berada di tangannya. Lisan dipenuhi istighfar.

Namun beberapa minggu setelah pulang, semuanya kembali seperti sebelumnya. Shalat kembali dilalaikan.
Maksiat lama kembali dilakukan. Lisan kembali sulit dijaga. Seolah-olah perjalanan bersama Allah berakhir ketika koper sudah dibongkar.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda: “Umrah yang satu ke umrah berikutnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya.” (HR. Al-Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349)

Keutamaan tersebut begitu besar. Namun seorang muslim tidak seharusnya memahami ampunan Allah sebagai izin untuk sengaja kembali kepada dosa.

Justru salah satu buah ibadah adalah perubahan. Sepulang dari Makkah, tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah shalatku lebih baik?

Apakah lisanku lebih terjaga?

Apakah aku semakin takut melakukan yang haram?

Apakah hubunganku dengan orang tua dan keluarga membaik?

Apakah aku semakin berhati-hati dalam mencari rezeki?

Apakah hatiku semakin rindu kepada akhirat?

Karena sebenarnya pertanyaan terpenting bukan: “Sudah berapa kali kita umrah?”

Tetapi: “Apa yang berubah setelah kita umrah?”

Jangan Hanya Mengejar Sampai ke Ka’bah, Kejarlah Ridha Allah

Tidak ada jamaah yang sempurna. Kita dapat lupa. Kita dapat salah. Kita mungkin baru mengetahui suatu Sunnah setelah bertahun-tahun melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda.

Karena itu ilmu bukan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada jamaah lain. Ilmu seharusnya membuat kita lebih rendah hati. Jika melihat kesalahan, nasihati dengan lembut. Jika mengetahui Sunnah, amalkan terlebih dahulu.

Jika belum mengetahui suatu perkara, jangan malu bertanya kepada ahli ilmu yang terpercaya. Dan ketika Allah memberi kesempatan mengunjungi Baitullah, jangan hanya meminta:

“Ya Allah, mudahkan aku sampai ke Makkah.”

Mintalah lebih daripada itu:

“Ya Allah, ajarkan aku beribadah kepada-Mu dengan benar, ikhlaskan niatku, terimalah amalanku, ampuni dosaku, dan pulangkan aku dalam keadaan lebih dekat kepada-Mu.”

Sebab tujuan terbesar perjalanan ini bukan sekadar melihat Ka’bah. Tujuan kita adalah beribadah kepada Rabb pemilik Ka’bah.

Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, amal yang sesuai Sunnah, hati yang ikhlas, umrah yang diterima, serta kehidupan yang semakin baik setelah kembali dari Tanah Suci.

Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *